Dasar DTG

Banyak Orang Gagal di Bisnis DTG Karena Kurang Paham 10 Hal Ini

Sebelum jauh lakukan riset mesin print DTG mana yang cocok untuk Anda beli, sebaiknya perhatikan 10 hal yang seringkali membuat pebisnis DTG lokal gagal!

  1. Tidak paham dan tidak bisa merawat printhead. Printhead adalah komponen atau spare part utama yang paling berperan di mesin printer DTG. Tinta tekstil tidak semudah tinta pigment dan dye, karena karakternya yang lebih kental dan bermasa jenis tinggi. Jika tidak merawat printhead secara rutin, maka bisa terjadi clogging di printhead. Perawatan minimal yang harus dilakukan rutin adalah menjaga kebersihan dan kelembaban Capping Station agar permukaan printhead bersih dan nozzle-nya tidak mampet. Menjaga kebersihan ruangan juga bagian dari perawatan dasar agar printhead tidak kemasukkan debu dan kotoran. Daftar lengkap tentang perawatan printer DTG akan dijelaskan di artikel berikutnya.
  2. Speed = Maintenance. Untuk mendapatkan kinerja maksimal dari printer DTG, perawatan rutin harian adalah wajib. Seringkali, orang yang masih pemula belum mempunyai SOP baku untuk memastikan perawatan harian bisa konsisten dilakukan. Formula tersebut juga bermakna, jangan beli mesin DTG dengan kecepatan yang melebihi kebutuhan bisnismu. Hati-hati!
  3. Jangan percaya dengan tagline “Anti mampet dan mudah dirawat“. Sering kita menemui vendor/distributor yang menjanjikan perawatan yang mudah di mesin printer DTG yang mereka jual. Memang ada mesin DTG yang “less maintenance” khususnya printer DTG branded. Perlu dipahami bahwa apapun mesin DTG-nya, prinsip kerja dan tantangannya tetap sama. Jadi, perawatan yang dilakukan juga sama. Yang membedakan antara printer rakitan dan branded dalam maintenance adalah kemudahan menjalankan proses perawatan itu sendiri dan frekuensinya.
  4. Software RIP yang tidak terpakai maksimal karena keterbatasan pemahaman desain dan setting komputer. Software RIP mempunyai peran yang sangat penting dalam memproses gambar desain untuk dicetak di media kaos. Kualitas printing sangat dipengaruhi setting profile warna, setting dot, setting tinta putih dan seterusnya.
  5. Kaos print warna putih mungkin lebih mudah, tapi tidak berikan potensi penjualan yang meningkat. Maksudnya, kalau kita hanya menjual kaos putih atau warna terang untuk menghindari tinta putih artinya kita melepaskan banyak kesempatan penjualan. Dalam perjalanan waktu, akan semakin banyak pelanggan yang inginkan print kaos warna non-putih yang mau tidak mau mengharuskan kita memakai tinta putih.
  6. Tidak ada satu mesin DTG untuk cetak banyak media diluar kaos (dalam prakteknya). Dalam pandangan penjual, mesin DTG bisa dioptimalkan untuk print desain di banyak media, tidak terbatas pada kaos saja. Tentu benar. Tinggal buat type tatakan yang berbeda-beda sesuai kebutuhan, maka printer DTG kita bisa dipakai untuk cetak desain di kaos, topi, sepatu, handuk, jaket, totte bag dan seterusnya. Tapi dalam prakteknya, kita harus memilih Segment pasar yang akan menjadi target kita. Mustahil untuk melayani semua Segmen, yang artinya juga mustahil untuk bisa produksi banyak produk hanya dengan 1 printer.
  7. Training itu sangat penting, tidak bisa dilakukan tanpa fokus dan kesungguhan. Wajib dilakukan di awal. Kita tidak bisa men-skip Training operasional mesin printer DTG. Kita harus benar-benar tahu apa yang kita pilih dan konsekuensi nya.
  8. Gagal eksekusi pemasaran. Ini adalah aspek paling fundamental. Bisnis kita akan terus berputar berkembang dengan satu cara, JUALAN. Dan, jualan akan terus tumbuh berkelanjutan dengan syarat adanya strategi dan eksekusi pemasaran yang baik. Bicara soal strategi, kita berbicara soal siapa target pasar kita dan apa positioning yang akan kita tempatkan. Lebih lanjut, ini juga berhubungan dengan Business Model yang kita pilih.
  9. Tidak punya Business Model yang menguntungkan. Umumnya, pebisnis DTG akan memilih model bisnis yang sederhana, menjadi penjual jasa cetak kaos custom. Operasional DTG yang cukup susah, membuat kebanyakan orang mengambil jalan yang mudah untuk model bisnisnya. Namun demikian, apapun pilihan model bisnisnya, yang paling penting ada keuntungan bersih yang kompetitif yang menjamin bisnis kita terus bertumbuh tanpa tergantung pihak luar (kreditur atau investor). Keuntungan yang dihasilkan bukan sekedar nett margin tipis dengan cash flow yang berputar.
  10. Keterbatasan SDM untuk operasional. Nah, kalau bicara soal Management Sumber Daya Manusia, kita sedang bicara hal klasik, yang tidak akan pernah hilang kapanpun dan apapun bisnisnya. Di era sekarang dimana generasi Milenial menjadi golongan mayoritas di angkatan kerja produktif, pebisnis DTG harus benar-benar kreatif mengemas Employer Branding-nya agar tetap bisa merekrut talenta terbaik. Di awal, pebisnis DTG disarankan bisa menjalankan semua aspeknya sendiri dulu, kecuali dia memiliki cukup modal besar dan juga Business Plan yang bagus. Manfaat yang didapat dengan mau turun langsung mengoperasikan mesin Printing DTG adalah kita jadi tahu secara detail penggunaan DTG. Jadi, sewaktu-waktu masalah muncul kita bisa lakukan perbaikan secara mandiri. Lebih dari itu, seandainya ada operator DTG yang resign kita bisa sementara menggantikan, sehingga operasional produksi tetap berjalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *